Pages

Labels


33didada.blogspot.com: Kadang ada sesuatu yg tak harus dikatakan tapi harus dimengerti
Diberdayakan oleh Blogger.

KENANGAN : Rekor Jumlah Penonton , Final Divisi Utama Psms vs Persib era Perserikatan 1985

Harian kompas dan majalah tempo menulis pertandingan yang harus diselesaikan melalui adu tendangan penalti tersebut disaksikan oleh 150.000 penonton , sementara tabloid BOLA menulis final diskasikan lebih dari 125.000 penonton.

#82ThPERSIB

14 MARET 2015 sejak dinihari tadi, seperti yang sudah diperkirakan.....status mengucapkan selamat ulang tahun PERSIB yang ke-82 menjadi hal yang jamak di berbagai media sosial, Jauh sebelum trend media sosial merajalela beberapa tahun belakangan ini sebenarnya ritual selamat-selamatan ini pun telah terjadi dikalangan bobotoh yang memiliki akses untuk mengekspresikan rasa suka citanya

Genetika Real Madrid Dan Chelsea Pada Persib

Genetika berasal dari kata serapan bahasa Belanda: genetica, adaptasi dari bahasa Inggris: genetics, dibentuk dari kata bahasa Yunani: γέννω, genno yang berarti “melahirkan”. Adalah cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion)

SIAPA PRABU SILIWANGI?

Bagi masyarakat Sunda atau Jawa Barat, siapa yang tidak mengenal nama Prabu Siliwangi. Raja Pajajaran yang identik dengan Harimau Putih itu dikenal sebagai salah satu raja sakti yang pernah dimiliki oleh negeri Pasundan (Jawa Barat). Nama Prabu Siliwangi sendiri sesungguhnya adalah nama lain dari Pangeran Pamanah Rasa

SEJARAH PERSIB

Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Indische Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Maret 2015

Cerita Tionghoa di Lapangan Sepakbola Indonesia

Sejak masa penjajahan Belanda hingga 1960-an, sejumlah pesepakbola Tionghoa turut terlibat di sepakbola Indonesia. Hedi Novianto dalam tulisannya “Kemana Pemain Tionghoa” menuturkan bahwa sejumlah nama seperti Chris Ong, Arief Kusnadi (Kiat Sik), Thio Him Tjiang, Peng Hong Alai, Thio Him Toen, Kwee Kiat Sek, pernah mewarnai sepakbola Indonesia. Belum lagi kehadiran pesepakbola Tionghoa yang “menarutralisasi” namanya menjadi nama lokal seperti Endang Witarsa, Sartono Anwar dan putranya, Nova Arianto.

Dalam tulisan tersebut, Hedi meyakini kalau orang Tionghoa bukannya anti terhadap olahraga. Sejumlah cabang olahraga mereka kuasai: bulutangkis, tinju, renang, balap mobil, sepeda gunung, hingga bola basket. Anehnya, nama orang Tionghoa—baik yang sudah “dinaturalisasi” maupun nama asli—jarang terdengar di panggung persepakbolaan Indonesia.

Juan Revi merupakan pesepakbola keturunan Tionghoa yang terbilang sukses. Ia menjadi tulang punggung Arema hingga saat ini. Karir Revi sebenarnya terpantau saat ia bergabung bersama tim PON Jawa Timur yang merebut emas pada Pon 2008. Ia pun sempat dipanggil timnas pada 2013 kala membela PSS Sleman.

Sebelum Revi, ada pesepakbola muda Indonesia yang digadang-gadang akan menjadi pemain besar, dan ia adalah keturunan Tionghoa: Irvin Museng. Pemain kelahiran 16 Juli 1992 ini merupakan pencetak gol terbanyak dalam ajang sepakbola Danone U-12 pada 2005 di Prancis. Sempat berlatih bersama Ajax Amsterdam junior, karir Museng akhirnya meredup saat kembali ke Indonesia.

Ada juga Arthur Irawan. Nyaris tak terdengar sebelumnya, nama Arthur tiba-tiba mencuat menyusul kabar ia telah dikontrak Espanyol, kesebelasan yang bermain di La Liga. Arthur memang tak pernah bermain di tim utama, dan hanya sempat mencicipi Espanyol B, tapi keberhasilnya itu menjadi kabar yang mengejutkan. Seakan ada harapan baru. Namun karirnya kemudian agak meredup, bahkan ia gagal menembus skuat kesebelasan nasional Indonesia di Piala AFF 2012.

Kehadiran Sutanto Tan, juga Arthur Irawan dan nama-nama di atas, memberi khazanah baru bagi sepakbola Indonesia bahwa sepakbola bukan cuma milik pribumi yang berkulit sawo matang. Kehadiran pemain Tionghoa juga seperti membuka kembali sejarah kejayaan sepakbola Indonesia pada 1950-an.

Di Bandung, jarang ada sekolah ataupun perguruan tinggi yang mayoritas orang Tionghoa menjuarai sebuah turnamen sepakbola atau futsal. Langganan juara biasanya melekat pada SMAN 16 Bandung, atau SMAN 18 Bandung yang kini berlatih di Thailand setelah memenangi kompetisi futsal tingkat nasional. Jarang terdengar, misalnya, SMA BPK Penabur atau SMA Bina Bakti yang menjuarai kompetisi sepakbola atau futsal.

Kondisi berbeda terjadi pada ajang bola basket tingkat Perguruan Tinggi (PT). Pada Liga Basket Mahasiswa 2013, Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) berhasil menjadi juara nasional, dan pada tahun ini hanya berada pada peringkat kedua setelah kalah atas Universitas Pelita Harapan (UPH).

Hal yang sama berlaku pada kompetisi basket tingkat SMA tahun ini. Dari empat kesebelasan yang berlaga pada babak semifinal, tiga di antaranya merupakan SMA yang siswanya mayoritas Tionghoa: SMA Trinitas, SMA Santa Angela, dan SMA Bintang Mulia, meski juara tetap diraih kekuatan basket Bandung, SMAN 9.

Dari sedikit fakta di atas, terlihat bagaimana antusiasme sejumlah sekolah yang mayoritas Tionghoa untuk berolahraga, tapi bukan futsal atau sepakbola. Dorongan untuk bermain sepakbola mungkin ada, tapi tidak sebesar dan “sekeren” mereka yang main basket.

Sulit menjadikan sepakbola sebagai hobi belaka. Dibutuhkan fisik yang prima serta latihan terstruktur setiap saat. Ini bukan berarti olahraga lain tidak butuh fisik yang prima, tapi dibandingkan dengan basket yang hanya 4×10 menit atau 4×12 menit, sepakbola jauh lebih menguras fisik, karena lapangan yang jauh lebih besar pula.

Orang Tionghoa mana yang mau anaknya menjadi pesepakbola dengan masa depan yang belum begitu jelas? Lebih baik mengirimkan mereka ke Barkeley, belajar ekonomi, lalu melanjutkan usaha keluarga.

Melawan Lewat Sepakbola

Zen RS dalam tulisannya “Mengenang Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia” yang mereview buku Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola Indonesia menuliskan bahwa orang Tionghoa punya posisi yang kompleks dalam struktur sosial di Indonesia. Walau sudah mendiami Nusantara berabad-abad lamanya, posisi mereka masih seringkali idanggap sebagai outsider, atau orang luar.

Diskriminasi yang diterima orang Tionghoa sudah mulai terjadi sejak era pemerintah kolonial Belanda. Ruang gerak mereka dibatasi dengan ditempatkan di wilayah tertentu. Sepakbola pernah menjadi tempat pembuktian orang Tionghoa bagaimana cara mereka melawan. Kala itu, selain federasi sepakbola Belanda (Nederlandsch Indische Voetbal Bond-NIVB) dan Persatiean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI), orang Tionghoa juga punya federasinya sendiri: Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB). Mereka punya klub-klub dan kompetisinya masing-masing. HNVB bukannya tanpa prestasi, karena di sanalah sejumlah pemain berkualitas berasal.

“Puncaknya, pada 1927, Comite Kampioen Wedstrijden Tiong Hoa (CKTH). Dari situlah akhirnya munculnyamuncul HNVB sebagai organisasi yang menaungi semua bondsepakbola Tionghoa di Hindia Belanda,” tulis Zen.

Novan Herviyana lewat blognya, menuturkan pada 1927, kesebelasan Tionghoa menghimpun diri dalam CKTH. Pada 1930, barulah HNVB lahir. Kompetisi yang digelar HNVB digelar saat mereka melakukan kongres setiap tahunnya.

Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid, dalam tulisannya “Beri Jalan Orang Cina” memperlihatkan kondisi di masa Orde Baru, di mana “Orang Cina” diperlakukan “khusus”.

“Secara terasa, ‘kesepakatan’ meluas itu akhirnya mengambil bentuk pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan, namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit umum. Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi eselon satu. Apalagi jadi menteri,” tulis Gus Dur di majalah Editoryang terbit pada 21 April 1990, dikutip dari halaman Facebook Akhmad Sahal.

Padahal, pada masa Presiden Soekarno, orang-orang Tionghoa inilah yang memberikan kebanggaan terhadap Indonesia. Wartawan BBC, Heyder Affan, menuliskan kalau skuat yang berhasil menahan Uni Soviet pada Olimpiade Melbourne 1956, juga diperkuat oleh orang Tionghoa.

Pada 1950-an, bukan pemandangan yang aneh jika melihat orang Tionghoa bermain di lapangan hijau. “Mereka membaur betul sebagai bangsa Indonesia, tidak ada perbedaan antara Tionghoa dan pribumi. Cair sekali,” tutur Ignatius Sunito, mantan wartawan Kompas dan Pemimpin RedaksiBola, seperti dikutip dari BBC.

Sejak kegagalan di Asian Games 1962, peran pemain Tionghoa, sudah tidak lagi sefenomenal dulu, seiring mundurnya prestasi sepakbola Indonesia.

Faktor lain yang membuat orang Tionghoa “pudar” dari peredaran adalah saat mereka “dianaktirikan” oleh penguasa kala itu. Faktor lainnya, karena memang jarang pesepakbola yang berlaga di Indonesia, bisa sukses dalam ukuran uang.

Faktor lain yang kerap saya temui adalah masih adanya diskriminasi dalam bentuk tatapan aneh, misalnya, saat ada orang Tionghoa yang datang ke stadion memakai kostum tim lokal. Hal ini seperti menyiratkan adanya “kita” dan “mereka” yang masih lekat antara masyarakat pribumi dengan orang Tionghoa.

Gus Dur menyatakan kalau orang Tionghoa tidak ada hubungannya dengan Republik Rakyat Tiongkok, karena mereka lahir sebagai Indonesia.

“Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku, dan Irian sebagai satuan etnis—padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan orang luar, melainkan kita-kita juga,” ungkap Gusdur.

Saat mendengar masih saja ada yang memanggil orang Tionghoa dengan “Cina, Cina” dengan nada melecehkan, di situ kadang saya merasa sedih.

Apapun namanya, seperti kata Gus Dur, mau “Cina” mau “Tionghoa”, toh mereka masih kita-kita juga, masih tetap orang Indonesia.

Rabu, 04 Februari 2015

Adolf Hitler in Islam and the Dead in Indonesia ?

Of the many available information about the death of Hitler, no one can mention exactly what causes the death of the Nazi dictator.

How does the end of Hitler's adventure?

Is it true that Hitler and his wife Eva Braun committed suicide after taking poison cyanide?

So how the Americans when the autopsy of Hitler's skull was exhibited in 2000, which turned out to be the skull of a woman?

Where is the actual existence of Hitler after the fall of Berlin in the hands of the allies?

Some versions About death
The most popular version says that Hitler committed suicide by shooting himself and the way drinking cyanide on 30 April 1945, when Germany occupied by the Soviet Union.

Although some historians doubt Hitler shot himself, and figured it was just a Nazi propaganda to make Hitler as a hero.

However, the hole in the skull fragment seemed to strengthen the argument when the skull was exhibited in Moscow in 2000. How and when Hitler died have still shrouded in mystery.

Explanation of the cause can be found and when Hitler died of multiple versions. There is a German version of the death, the Russian version, and the version of the researchers or scientists.

German version, as told by Flegel, one of the nurses Hitler and other Nazi officials while in the bunker.

Russian version, which is expressed by a high official of the Russian secret service, the KGB, who claimed that Adolf Hitler did not end his life by shooting himself, but by drinking cyanide.

As stated by Lieutenant General Vasily Khristoforov, archives staff for the Russian FSB security service, "military Paramedia Soviet Union when it was sure that Hitler and Eva Braun died after minimal cyanide on 30 April 1945."

Version of the scientists, the last is the general opinion in this case represented by the scientists. Actually been a long time scientists and historians claim that the piece of skull that had been taken from outside Hitler's bunker by the Russian Army and Soviet intelligence had been kept it would be conclusive proof that shot himself to death after drinking a cyanide pill on 30 April 1945.

Finally performed DNA analysis on the skull piece by American researchers, and they stated, "we knew the skull was related to a woman aged between 20 and 40 years," said Nick Bellantoni archaeological expert from the University of Connecticut, USA, quoted from Dailymail.

"The bone seemed very thin, skeleton men tend to be stronger. And the junction where the skull plates fused appear to be associated with someone who is younger than 40 years. Hitler in April 1945 aged 56 years. "

With the results of the DNA test, meaning the history of Hitler's death became a mystery again, and conspiracy theorists should rethink other possibilities about the death of Hitler, like maybe Hitler did not die in the bunker.

Overview About Adolf Hitler
Regarding childhood, adolescence, up to when it became a dictator, Hitler is a minor child who was rejected, his father hated him and mengenggap behavior "antisocial" as a curse.

His father was a hard to educate a child, being mother (Klara) very good to him. Childhood suffused with hatred of his father is having a big hand in the formation of mental and psychiatric Hitler as adults.

When life is hard, World War 1 broke out. Without hesitation Hitler enroll into the army with the rank of Corporal, served on the battlefield in the front row. Disappointed with the defeat of Germany in World War 1, and see the country and its people are poor and starving, Hitler entered into a Labour Party member who became the NSDAP (Deutsche Arbeiter Partei National Socialistische). In 1920, Hitler became Head of Propaganda, where the talent seen Hitler in the field of speech and agitation.

One year later, in 1921, Hitler eventually became party chairman.

Finally, in 1962 Hitler get the absolute authority of the party.

And Hitler was a great orator "lion podium", an orator who can hypnotize a mass audience.

Hitler was a powerful politician and managed to build a successful imaging through propaganda. He managed to build an opinion becomes a powerful force that is successful through propaganda.

He managed to build an opinion becomes a powerful force to be feared. He also managed to build as fuses or opinion leaders who can be trusted people, bringing the nation to the height of glory.

Evidence Hitler in Indonesia

How does Hitler get to Indonesia? could become a citizen? How he worked as a doctor at the General Hospital of Sumbawa Besar? and up to the meeting Hitler with a Sundanese woman who eventually became his wife?

one of the main-news-about-Adolf-Hitler-that-there-in-java-post-01

Also on the testimony of Dr. Sosro Husodo when meeting with Hitler when in Sumbawa Besar. And all of them equipped with supporting documents and photographs are accurate. 
Hitler is known to be very violent in the 20th century, was hiding in Indonesia from 1954 to 1970, which was captured by the Allies (U.S., Soviet Union, Britain and France) were further investigated by the Israeli government constantly chasing the leaders Nazis.

In 1954 Adolf Hitler into Indonesia by using a fake name, Dr. Poch.

At first Dr. Poch stay in Dompu then moved to Bima, Sumbawa then moved to Great, then worked as a doctor at the General Hospital of Sumbawa Besar. The entire population of the island of Sumbawa familiar with this doctor, which is on the call by the nickname "German doctor".

One legacy of Adolf Hitler died on January 15, 1970 in Surabaya, the small brown notebook size of 9 × 16 cm to 44 cm thick.

In the book written dozens address book of friends and colleagues Hitler the same, as in the history of Europe.

Similarly, handwriting made dibuku-book is very identical and similar to Hitler's handwriting.

This book has a very great significance, because it is one of the authentic evidence which states that "Dr. Poch" is god-Nazi, Adolf Hitler. Then Hitler met a girl named Sulaesih being menggembara to Sumbawa Besar, who eventually proposed by Hitler.

Not long after Dr. Poch apply Sulaesih, he converted to Islam in 1964, which was witnessed by Chairman of the Office of Religious in Sumbawa, (but unfortunately Sulaesih forgot his name) and changed his name to Abdul Kohar. In 1965, Hitler became married.

Aries Zulkarnain, one witnesses the presence of Dr. Poch in 2010 and said the doctor had two opposite personalities, the grumpy yet often joke with people.

"He's grumpy, many prescribe to mouth [mention the name of the drug], but if anyone asks again, he said, I've already told you," said Aries.

Poch also be upset if patients call their illnesses. "Are you a doctor?," Said Aries, which often mimicked snapping Poch said. Added Aries, his who he knew also humorous. "Not afraid to joke with people," he said.

The most prominent of Poch, said Aries, is the way to drive a Jeep hood opening.

"The streets of Sumbawa first not good, but he drove with one finger. Excellent, "said Aries. "It was a sign that he was a former soldier," added Aries. Although never thought that Poch was Hitler, Aries people claimed he predicted the former Nazi soldier.

"He's very energetic, look at all his army. Residents when it was thought he was a former Nazi soldier, "he explained.

Previously, in the Daily Mind in 1983 there is an article about Hitler. The author named Dr. Sosrohusodo, University of Indonesia medical graduates who had served on the ship that made the hospital named 'Hope' in Sumbawa Besar.

Dr. Sosrohusodo recounts meeting with an old German doctor named Poch on the island of Sumbawa Besar 1960. Poch is the chairman of the largest hospital on the island. The man suspected of Hitler.

Evidence presented Sosrohusodo, is that the doctor can not run normally. He was always dragging his left leg when walking. Then his hand, said Sosrohusodo, German doctor left hand always shaking. He also had a similar vertical Charlie Chaplin mustache and a bald head.

This condition is believed to be similar to the picture of Hitler in his old age, which is found in a number of biographies of the Fuhrer. When I met him in 1960, the alleged 71-year-old Hitler.

According Sosrohusodo, a German doctor he met a very mysterious. He did not have a license to be a doctor, even he did not have the expertise on health. Sosro admitted to checking the left hand of his who is always vibrating. When asked when these symptoms begin to occur, Poch then asked his wife who then said, "This is when the German defeat in the battle near Moscow. At that time, Goebbels told you that you beat the table many times, "said Sulastri.

Sulastri already know about the incident from a few years ago, because her husband has been telling the events of the past to him.

Goebbels called Poch suspected wife was Joseph Goebbe, German propaganda minister, known loyal to Hitler.

Sosro said, Poch's wife, Eva Braun allegedly, several times calling her husband 'Dolf', which allegedly stands for Adolf Hitler.

Hitler Dead in Indonesia
Recognition Hitler to his wife from Indonesia, Sulaesih, that he is indeed the real Hitler, Der Fuhrer. What are the activities of Hitler before he died?

There Stanlin statement, that the dead in Hitler's bunker in Germany is not the original. And the final section tells how to end the dictator's death in Indonesia.

Adolf Hitler in 1960 in the island of Sumbawa During Hitler's death was very mysterious, because there were no witnesses that can show where the bodies were Hitler or Eva Braun's corpse, his last wife at the time in Europe.

At the Potsdam Conference in 1945, Stanlin stated that the bodies of Hitler and Eva Braun was not found. Stanlin suspect, god of the Nazis escaped and fled to Spain or Latin America.

And before long there were suggestions that Hitler's escape using a submarine to the island. But nobody knows what and where the island.

The international community did not realize that a very cruel Nazi leader was hiding safely in Sumbawa Besar, to death in Surabaya and buried in a common grave in Ngagel Muslims.

Embraced Islam
Before marriage, like a visit to the home Sulaesih "Dr. Poch", he often saw an older women, according to dr. Poch she is his wife, the Germans also named Helena. But Sulaesih not believe because Helena looks much older than dr. Poch.

When Helena wants to go back to Germany because it does not fit with the climate in Sumbawa Besar, he left amahan to Sulaesih.

He entrusts Gi (call dr. Poch, short for Georg Anto / GA), please be handled all needs. "Maybe it means I should be married to dr. Poch, "said Sulaesih.

Shortly after dr. Poch apply Sulaesih, he converted to Islam in 1964, which was witnessed by Chairman of the Religious Affairs Office in Sumbawa, but unfortunately Sulaesih forget his name, and changed his name to Abdul Kohar. In 1965, Hitler married with Sulaesih, from Bandung Sundanese woman who wanders into the island of Sumbawa, they both marry a Muslim.

A year after dr. Poch embraced Islam in 1965, when Sulaesih was working, there is a call to KUA (Office of Religious Affairs), "What?" Sulaesih wondered to myself. Previously I do not know what's wrong when I got to KUA, "said Esih.

Sulaesih finally married at the age of 34 years, while the dr. 64-year-old Poch. Although closed to within 30 years, did not prevent them from marrying.

Sulaesih finally no longer working in Local Government, but with dr. Poch patient care and care of the household.

Cover
Death of German dictator, Adolf Hitler committed suicide believed in a bunker, on April 30, 1945 in Berlin, is still questionable and remains a mystery.

Anyone who witnessed the events in the bunker when Hitler committed suicide? No, the source of the story just by word of mouth. And at that time, although no clear evidence and witnesses, the allies remained officially announced that Hitler and his wife, Eva Braun had died. Most former Nazi soldiers to move and escape to the countries in South America such as Brazil and Argentina. Hitler already knew the problem was, so she did not want to go to South America because it would be found by the U.S. military and intelligence and intelligent enemy countries.

While Hitler's escape rather than to the South American country, but rather to Indonesia through Italy, he chose Indonesia because Indonesia had always been no diplomatic relations with Israel. Also in the past at the time of Sukarno's leadership, Indonesia is not like imperialism spearheaded by Britain and America.

The bodies of Hitler and his wife

Indeed, during the Hitler allegedly fled to a country in the south. One of the locations mentioned as a hiding place is Indonesia, which is also believed by prof. Arysio Santos (Nuclear Physics expert and geologist Brazil) as 'the lost Atlantis'.

Even the Nazis searching for Atlantis to the South Pole. The legend of Atlantis is close to the Nazi religion, therefore Hitler was looking for it for a long time.

Sulaesih widow after being abandoned by Hitler In Indonesia also, Madame Blavatsky is Master occultists Hitler, also lived in Indonesia.

His name was first immortalized as the name of the street, now renamed Jalan Medan Merdeka Barat, Central Jakarta, where the lodges of Freemasons 'Eastern Star' once stood.

Coupled with the presence of a mysterious tomb in Surabaya believed to be the grave of Adolf Hitler.

Various clues did lead to it. Moreover Brandenburgers Codex, a manuscript of ancient Germany, discovered and indicate if indeed Hitler fled to Indonesia.

So, it is not impossible Hitler died in Indonesia. Because Indonesia is considered a safe place, for Hitler. Please anyone to find the real answer.

Kamis, 29 Januari 2015

SIAPA PRABU SILIWANGI?

Bagi masyarakat Sunda atau Jawa Barat, siapa yang tidak mengenal nama Prabu Siliwangi. Raja Pajajaran yang identik dengan Harimau Putih itu dikenal sebagai salah satu raja sakti yang pernah dimiliki oleh negeri Pasundan (Jawa Barat). Nama Prabu Siliwangi sendiri sesungguhnya adalah nama lain dari Pangeran Pamanah Rasa.

Dalam Kitab Suwasit, dikisahkan bahwa Pangeran Pamanah Rasa merupakan putra mahkota dari Prabu Anggararang yang menguasai Kerajaan Gajah. Pangeran Pamanah kemudian melanjutkan kepemimpinan ayahnya, Prabu Anggararang sebagai Raja gajah.

Di tengah memimpin kerajaan gajah, Prabu Pamanah Rasa kerap mengembara ke sesuatu daerah. Di dalam salah satu pengembarannya, Prabu Pamanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih di hutan yang terletak di daerah Majalengka. Pertempuan pun tidak terelakkan.

Prabu Pamanah Rasa dan Siluman Harimau Putih yang diketahui memiliki kesaktian tinggi itu pun bertarung sengit. Namun kesaktian Prabu Pamanah Rasa berhasil memenangi pertarungan dan membuat siluman Harimau Putih tunduk kepadanya.

Dengan tunduknya siluman Harimau Putih, maka meluaslah wilayah kerajaan Gajah. Prabu Pamanah Rasa pun selanjutnya mengubah nama kerajannya menjadi kerajaan Pajajaran. Yang berarti menjajarkan atau menggabungkan kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih.

Siluman Harimau Putih beserta pasukannya selanjutnya dengan setia mendampingi dan membantu Prabu Pamanah Rasa. Salah satunya kala kerajaan Pajajaran menundukkan kerajaan Galuh. Siluman Harimau Putih juga turut membantu Prabu Pamanah rasa saat kerajaan Pajajaran diserang oleh kerajaan Mongol.

Seiring meluasnya wilayah kerajaan Gajah, Prabu Pamanah Rasa kemudian membuat senjata sakti yang kini menjadi lambang propinsi Jawa Barat, yaitu Kujang. Senjata itu berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di gagangnya. Ukiran harimau di gagang Kujang konon sebagai pengingat terhadap pendamping setianya, siluman Harimau Putih.

Kapan Prabu Pamanah Rasa menggunakan nama Prabu Siliwangi? Nama itu dipakai setelah dia memutuskan untuk memeluk agama Islam sebagai syarat menikahi Nyi Ratu Subanglarang yang merupakan murid dari Syaikh Quro.

Dan dari rahim Nyi Ratu Subanglarang lah lahir seorang putra yang dinamakan Pangeran Kian Santang yang selanjutnya diberi gelar Pangeran Cakrabuana. Selain itu, Nyi Ratu Subanglarang juga melahirkan seorang putri yang diberi nama Rara Santang.

Rara Santang kelak diketahui menjadi ibunda salah satu wali dari sembilan wali di Indonesia. Yaitu Syarif Hdayatullah atau biasa dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

Bagaimana selanjutnya kisah Prabu Siliwangi? Prabu Siliwangi sendiri tidak diketahui akhir hidupnya. Banyak yang meyakini jika Prabu Siliwangi bersama siluman Harimau Putih menghilang dan memindahkan kerajaan Pajajaran ke alam Gaib.

(Sumber: neomisteri.com)

SEJARAH PERSIB

Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Indische Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.

Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.

Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (Persebaya), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetbal Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.

Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan di pinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.

Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.

Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.

Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.

Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.

Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.

Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah sekretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R.Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.

Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.

Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.

Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.

Sebagai tim yang dikenal tangguh, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Adjat Sudradjat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nuralim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.

(sumber:juntiweden)

 

Follow Us

Blogroll

About

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail